BANTEN – RISETNEWS.COM
SERANG — Tradisi Bedolan Pamarayan yang sempat menuai polemik dan aksi unjuk rasa warga, akhirnya resmi akan dilaksanakan. Melalui Surat Edaran Bupati dengan Nomor Lampiran 04/Bedolan Pamarayan/X/2026, kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada 17–19 Oktober 2026. Surat ditandatangani oleh Ketua Panitia Bedolan Bendungan Pamarayan, Anis Puad, dengan tembusan kepada Bupati Serang.

Kegiatan yang sempat dinyatakan batal pada 10 Oktober 2026 dan memicu kekecewaan warga, kini disambut antusias. Persiapan mulai terlihat di lokasi Lapangan Batu Kurung, di mana tenda-tenda UMKM telah berjejer rapi, begitu pula panggung untuk rangkaian acara istighosah pada malam Jumat dan pertunjukan wayang golek pada malam Sabtu.
Pembukaan pintu air Jembatan Pamarayan dijadwalkan berlangsung pukul 10.00–13.00 WIB. Masyarakat berbondong-bondong bersiap menyambut momen berburu ikan khas Sungai Ciujung yang muncul saat permukaan air surut drastis.
Namun, di balik kemeriahan tersebut, kekhawatiran mengemuka dari warga yang bermukim di sepanjang bantaran Sungai Ciujung. Khususnya warga Kampung Ajag, RT 05/02, Desa Bojong Catang, Kecamatan Tunjung Teja, Kabupaten Serang. Sebagian pemukiman mereka telah hilang akibat abrasi sungai yang terus terjadi. Warga khawatir, pembukaan pintu air secara tiba-tiba akan mempercepat pengikisan tanah dan memicu longsor baru.
“Harusnya orang-orang yang berdemonstrasi menginginkan Bedolan ini juga ikut mempertimbangkan kondisi rumah kami yang berada tepat di pinggiran sungai,” ujar seorang warga Desa Bojong Catang saat berbincang dengan awak media, Kamis (15/10/2026).
Kekhawatiran warga ini menjadi catatan penting: di satu sisi tradisi ini sangat dinantikan, namun di sisi lain keamanan dan kelestarian lingkungan di sepanjang Sungai Ciujung juga tak boleh diabaikan demi mencegah kerugian yang lebih besar. (Yun/Red)







